Mengapa Dharma Buddha mengatakan bahwa bisa menjadi suami isteri itu adalah takdir pertemuan, sementara anak-anak adalah utang, dan tidak akan datang kalau tidak ada utang ?
Dalam Kitab Suci Buddha dikatakan : Untuk apakah pria dan wanita itu datang ke dunia ? Menyelesaikan (takdir) pertemuan yang belum berakhir. Tidak akan bersatu/bersama tanpa pertemuan yang ditakdirkan, dan juga tidak akan datang kalau tidak ada utang”.
Kaum wanita, kebanyakan sakit hati (benci) pada suami, daripada sebaliknya. Pria mungkin akan berkata : Istri saya yang membenci saya saja, saya tidak tahu. Asal tahu saja, seberapa dalam cinta itu, maka sedalam itulah bencinya.
Mengapa wanita lebih banyak mengeluh? Karena sejak saat mereka (kaum perempuan) menikah dengan laki-laki itu, telah menyerahkan hati dan jiwa mereka sepenuhnya pada laki-laki itu, dan mereka mencintai keluarga ini, mencintai suaminya, menyayangi anak-anaknya setelah menikah, demi keluarga ini, mereka bekerja keras, tapi hasilnya, suaminya ini tidak bisa mengucapkan kata-kata yang baik (menyentuh, menunjukkan perhatian), ada kaum laki-laki yang sepanjang hidupnya tidak bisa mengutarakan kata-kata yang menyentuh, menunjukkan perhatian, dan tidak pernah terucap dari bibirnya : “Isteriku, kau sudah bekerja keras untuk keluarga ini!”.
Bahkan ada wanita, dimana setelah bekerja seharian, bermaksud ingin bermanja-manja sejenak pada suaminya, ingin mendengar kata-kata yang menyentuh hati, lalu berkata pada sang suami : “Hmm, sayang, rasanya cape juga kerja seharian ini.” Tapi, apa yang diterima ? Sang suami justru berseru dengan lantang : “Siapa yang tidak kerja ? Namanya juga hidup, yaa harus kerja, kamu lelah, lantas apa orang lain tidak lelah ?”
Sebait kata-kata lantang ini, seketika membuat mata wanita itu pun berkaca-kaca, menangis sedih, merasa disalahkan. Dan air mata pun seketika mengalir, lantas masuk ke kamar, sambil menangis ia menggumam dalam hati : benar-benar bikin kesal, kenapa juga menemui sosok orang yang begitu kaku, tidak bisa mengucapkan kata-kata yang enak didengar. Semula dipikir bisa sedikit terhibur, kalau tidak ya sudah, tapi justru ini malah bikin kesal.
Kaum wanita yang menikah dengan sosok pria yang kaku (tidak bisa memahami perasaan wanita), atau menikah dengan pria yang keras kepala, atau sesosok pria yang lebih suka bermain (tidak dewasa seperti anak kecil), maka wanita yang menjadi isteri dari sosok suami seperti itu dipastikan akan kesal (marah), dan merasa diperlakukan tidak adil di rumah.
Wahai wanita, itu dikarenakan Anda berutang padanya dalam kehidupan di masa lalu Anda sebelumnya, karena itu dalam kehidupan sekarang ini Anda menikah dengannya. Anda menikah dengan si A atau si B, kenapa tidak menikah dengan si C ? Karena Anda berutang padanya, maka dari itu, Anda menikah dengannya, jadi, tidak akan datang kalau tidak ada utang, dan tidak akan bisa bersatu/bersama tanpa pertemuan yang ditakdirkan. Sementara itu, ada yang bilang : “Tidak bisa juga Anda berkata seperti itu, kalau memang saya berutang pada suami saya, tapi suami saya memang sudah tidak bersikap baik sama saya, dan bagaimana kalau dia tahu saya yang berutang padanya?”
Sementara itu, ada juga yang mengatakan : “Saya tidak berutang sama suami saya, tapi ia lumayan baik (sikap/perlakuan) terhadap saya.”
Kaum pria juga berutang pada wanita. Kalau tidak ada utang, tidak akan membentuk sebuah keluarga. Ada kaum pria yang akan berkata kepada seorang wanita : Kau menikahlah denganku, nanti semua pekerjaan rumah tangga, mencuci pakaian, memasak, atau mengepel dan sebagainya itu biarlah saya yang kerjakan, kamu tidak perlu kerja apa-apa. Asalkan kamu mau menikah denganku, aku rela melakukan apa pun untukmu. Sementara itu, ada wanita yang pergi/kabur bersama pria lain setelah menikah, belakangan wanita ini kembali, dan pria itu tetap menginginkannya kembali.
Bukankah ini berutang kepada orang lain ? Hanya saja kebanyakan kaum wanita itu berutang pada laki-laki. Lalu bagaimana membayar utang itu ?
Ada wanita yang mengumpat seorang pria : “Kenapa aku menikah dengan orang yang tidak berguna seperti kau ? Apa pun tidak bisa!”
Ketika bertemu tetangga, selalu merendahkan laki-laki (suami) Anda sendiri, begitu juga saat bertemu dengan teman sekolah, selalu menjelek-jelekkan suami sendiri, mengatakan bahwa laki-laki suami saya itu tidak berguna, segala sesuatu selalu saya yang kerjakan, benar-benar cape saya dibuatnya. Jika Anda benar-benar menikah dengan sesosok pria yang tidak berguna, itu karena pada kehidupannya dahulu, ia sudah terlalu banyak mengabdi atau berkorban untukmu, kini dalam kehidupan sekarang, sudah sepantasnya Anda menggantinya. Ini bukan nasib buruk Anda, tapi itu adalah sebab dari benih yang Anda tanam pada kehidupan dahulu, dan yang Anda petik dalam kehidupan sekarang. Kini, dalam kehidupan sekarang, Anda harus menerima segala karma yang Anda taburkan dalam kehidupan dahulu.
Jalanilah karma itu, dan setelah menjalaninya, karma itu pun akan berakhir. Terima dan jalanilah karma itu dengan tenang di rumah. Mulai hari ini, jangan lagi membenci, ia (suami/isteri) adalah utang Anda dalam kehidupan Anda di masa lalu, karena itu Anda harus menerimanya dalam kehidupan sekarang. Ada orang yang separoh hidupnya selalu mencaci maki orang, bahkan saking kesalnya sampai mengumpat nenek moyangnya segala, sampai sekarang kepalanya menjadi sakit, tapi ia sendiri juga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengannya? Setiap hari tanpa obat, dan sosoknya sendiri nyaris menjadi botol obat. Lihat saja, nenek moyang orang yang dicaci makinya itu sekarang bertengger di atas kepalanya, bagaimana bisa sembuh ? Tetap saja tidak akan sembuh berapa pun banyaknya obat yang ditenggak.
Sosok suami seperti apa pun yang menikahimu, semua itu memang nasib yang harus Anda jalani. Orang yang dijumpai hari ini, adalah takdir yang memang sudah digariskan, semua itu adalah sebab dari benih yang ditanam pada kehidupan dahulu, dan buahnya harus Anda petik dalam kehidupan sekarang. Karena itu, terimalah dan jalani secara alami, tidak akan datang tanpa utang, dan tidak akan bersama tanpa pertemuan yang ditakdirkan. Demikian juga dengan kaum pria, sebaiknya Anda turunlah dari ketinggian itu, jangan dikarenakan Anda seorang lelaki, lalu semaunya terhadap wanita. Begitu pun dengan kaum wanita, lebih baik Anda turun juga dari ketinggian, pahami Anda itu siapa ? Anda berutang padanya pada kehidupan dahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang hidup Anda baru menikah dengannya.
Jika suami Anda lumayan baik, dan Anda bilang tidak berutang padanya, maka Anda berutang pada mertuamu. Tidak harmonisnya hubungan antara menantu dan mertua, ini adalah pertemuan Anda yang berutang padanya dalam kehidupan dahulu. Sehubungan dengan utang-piutang (karma dalam kehidupan dahulu), ada mertua yang tidak mengerti, mengatakan : “Demi anak saya, saya telah menghabiskan banyak uang, sehingga ia menjadi menantu saya, tapi apa balasannya, ia (menantu perempuan) justru galak pada saya mertuanya, saya benar-benar kesal dibuatnya. Benar-benar sial.” Bukan sial, itu utang yang Anda bayar sebagai penebus utang dalam kehidupan dahulu yang dipertemukan dalam kehidupan sekarang sebagai mertua dan menantu.
Bukan sial, jika tidak ada karma antara Anda dengannya dalam kehidupan dahulu, maka ia juga tidak akan dipinang oleh keluarga Anda. Anda kesal dibuatnya, karena itu adalah benih yang Anda tabur, dan Anda petik dalam kehidupan sekarang. Antar sesama saudara, menjadi benci dan dendam satu sama lain, semua ini erat kaitannya dengan karma masa lalu. Tidak akan datang atau bertemu (menjadi anggota keluarga) kalau tidak ada utang, dan juga tidak akan bersama kalau tidak ada ada utang-piutang di masa lalu. Sementara itu, mengapa ada sekeluarga yang hidup rukun dan harmonis, santun dan saling hormat menghormati? Karena karma baik mereka dalam kehidupan dahulu, sehingga mereka juga dipertemukan/disatukan dalam satu keluarga untuk menyelesaikan takdir pertemuan mereka dalam kehidupan sekarang.
Sadarlah, orang-orang yang berada di sisi kita (menjadi anggota keluarga), ada yang datang/dipertemukan untuk menagih utang, ada yang membayar utang, ada yang balas budi, semua itu adalah orang-orang yang berjodoh atau yang ditakdirkan untuk bersatu dalam keluarga.
Jika ada anak-anak yang selalu jatuh sakit sejak kecil, membuat harta Anda habis, atau suka melawan dan memberontak, mencaci maki orangtua (ayah/ibu), ketahuilah, anak-anak seperti ini adalah utang hidup Anda pada mereka semasa kehidupan Anda sebelumnya, kini mereka datang ke dunia menjadi bagian dari keluarga Anda baik sebagai anak atau menantu untuk menagih utang pada Anda.
Jika pada kehidupan Anda sebelumnya pernah menipu terlalu banyak harta orang lain, maka dalam kehidupan Anda sekarang dipastikan mereka akan bereinkarnasi sebagai anak dalam keluarga Anda untuk menagih utang. Ada anak yang kerap berobat ke dokter sejak kecil, sehingga membuat seluruh harta di rumah pun habis hanya untuk biaya pengobatannya, setelah dewasa malah tidak berbakti (durhaka), tapi Anda tidak boleh membencinya, dan tidak boleh berkeluh kesah, Anda harus bisa bersikap baik dan memperlakukannya dengan curahan cinta dan kasih sayang, karena utang Anda terlalu banyak padanya semasa kehidupan Anda sebelumnya.
Sebaiknya jangan mencaci maki lagi, karena jika selalu marah dan berkeluh kesah, belum habis utang karma Anda pada kehidupan dahulu, “utang baru Anda akan bertambah lagi dalam kehidupan sekarang, meskipun “utang karma lama belum selesai”.
Jika Anda tidak ingin membayarnya dalam kehidupan sekarang, maka pada kehidupan yang akan datang, bunganya akan bertambah dan bertambah, bahkan akan ada orang yang mencambuk dan memaksa Anda untuk membayarnya. Bantu dan selamatkanlah diri Anda sendiri, takdir kebencian masa lalu yang belum dituntaskan, sebaiknya diselesaikan. Bersikap baik pada setiap insan, dan ketahuilah, bahwa orang-orang ini datang untuk menyelesaikan takdir pertemuan ini. Buddha mengatakan: “Segenap insan manusia itu sederajad. Suami Anda bukan harta milik pribadi Anda seorang, karena berjodoh denganmu pada kehidupan dahulu, sehingga (jodoh) datang dan menyatu (menikah) dalam kehidupan sekarang untuk menyelesaikan takdir pertemuan yang telah digariskan dengan Anda.”
Demikian juga dengan anak-anak Anda bukanlah harta milik pribadi Anda sendiri, mereka juga insan manusia di dunia, hanya saja pada kehidupan dahulu mereka berutang padamu, dan sekarang mereka datang dalam bentuk sebagai anggota keluarga Anda untuk membayar utang, namun sebaliknya, ada juga yang datang menagih utang dalam kehidupan sekarang karena Anda yang berutang padanya semasa kehidupan Anda dahulu. Lagi-lagi semua ini erat kaitannya dengan takdir pertemuan.
Jika Anda merenungkan secara mendalam pelajaran hari ini, maka Anda akan bisa mulai bisa menyadarinya. Dan akan melepaskan keterikatan hati atas diri suami maupun anak-anak. Mengapa Buddha meminta Anda untuk melepaskan keterikatan hati? Meminta Anda untuk tidak memandang suami Anda itu sebagai harta milik Anda pribadi, tidak boleh menempatkan isteri sebagai harta pribadi milik Anda. Hanya karena ada benihnya dengan Anda pada kehidupan dahulu, sehingga baru ada buahnya dalam kehidupan sekarang. (Secretchina/Jhn/Yant)
Sumber:
http://www.erabaru.net/2016/06/09/suami-isteri-dan-anak-tak-akan-bersama-tanpa-takdir-pertemuan-1/
http://www.erabaru.net/2016/06/13/suami-isteri-dan-anak-tak-akan-bersama-tanpa-takdir-pertemuan-2/
Comments